Home » Pendidikan » Wajib Tahu! Inilah Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok

Wajib Tahu! Inilah Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok

Iuwashplus.or.id Kemerdekaan yang diperoleh oleh Negara Indonesia tidak terlepas dari berbagai peristiwa patriotik, salah satunya ialah peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa ini menjadi tanda awal kemerdekaan Indonesia setelah pasukan Jepang kalah dari sekutu.

Peristiwa Rengasdengklok sendiri merupakan peristiwa penculikan Soekarno-Hatta oleh Golongan Muda. Sebenarnya, apa latar belakang peristiwa Rengasdengklok ini? Berikut rangkuman selengkapnya.

“Sejarah adalah guru terbaik dan paling adil. Ia menunjukkan kepada kita kesalahan kita agar tidak mengulanginya, dan menginspirasi kita dengan contoh-contoh keberanian dan ketekunan.” – Nelson Mandela

Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok

Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok

Seperti yang sudah disebutkan di awal, peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa penculikan Soekarno-Hatta yang dilakukan Golongan Muda. Kedua tokoh penting ini kemudian di bawa ke wilayah Rengasdengklok, sebuah kota kecil di Karawang, Jawa Barat.

Sejatinya, penculikan yang dilakukan oleh para anggota Golongan Muda ini sama sekali tidak bermakna negatif. Penculikan ini bahkan membawa serta Soekarno serta keluarganya dan Moh Hatta. Tiga anggota Golongan Muda yang turun dalam peristiwa penculikan ini adalah Sukarni, Wikana dan Chaerul Saleh.

Peristiwa penculikan yang dialami dua tokoh plokamasi ini terjadi di tanggal 14 Agustus 1945, setelah Jepang mengumumkan kekalahannya. Sebenarnya tidak hanya itu saja, masih ada beberapa hal lain yang menjadi latar belakang peristiwa Rengasdengklok. Berikut 3 poin yang melatar belakanginya.

Baca Juga: Ukuran Lapangan Bola Basket FIBA dan NBA Beserta Aturannya

1. Keinginan Golongan Muda Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan RI

Setelah kabar kekalahan Jepang tersebar, salah satu tokoh Golongan Muda, Chaerul Saleh mengajak para anggota Golongan Muda lainnya yang sama-sama berjuang demi kemerdekaan Indonesia untuk berdiskusi. Dalam diskusi ini, mereka kemudian sepakat agar Soekarno-Hatta mempercepat proklamasi kemerdekaan.

Selain itu, Golongan Muda ini juga ingin kedua tokoh proklamasi segera memproklamirkan, bahwa Negara Indonesia adalah negara yang merdeka. Harapan tentang kemerdekaan Indonesia ini setidaknya harus sudah terjadi selambat-lambatnya tanggal 16 Agustus 1945.

Baca Juga  Break Artinya Apa dalam Hubungan? Ini Makna yang Sebenarnya

2. Kekalahan Jepang Terhadap Sekutu

Seperti yang sudah disebutkan di atas, salah satu latar belakang peristiwa Rengasdengklok adalah karena kekalahan Jepang pada pasukan sekutu, bahkan Kaisar Hirohito sendiri yang mengumumkan kekalahan tersebut.

Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutunya, Amerika Serikat pasca Nagasaki dan Hiroshima dijatuhi bom atom.

3. Perbedaan Pendapat Antara Golongan Muda dan Golongan Muda

Latar belakang peristiwa Rengasdengklok selanjutnya adalah karena adanya perbedaan pendapat yang terjadi diantara Golongan Muda dan Golongan Tua terkait kemerdekaan Republik Indonesia. Golongan Muda memiliki keinginan, jika kemerdekaan Indonesia harus bisa diraih sendiri tanpa bantuan pihak manapun, baik itu Jepang maupun sekutu.

Sedangkan Golongan Tua berpendapat, bahwa Kemerdekaan Indonesia harus dipersiapkan dengan matang dan juga perlu dirapatkan bersama dengan PPKI. Golongan Muda tidak sependapat dengan ini karena mereka menganggap, PPKI adalah organisasi yang dibuat Jepang yang dikhawatirkan bisa mengganggu proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Tujuan Dibalik Peristiwa Rengasdengklok

Tujuan Dibalik Peristiwa Rengasdengklok

Setelah mengetahui apa saja yang menjadi latar belakang peristiwa Rengasdengklok, selanjutnya perlu juga untuk mengetahui apa tujuan dibalik peristiwa penculikan ini. Pada waktu itu, perwakilan dari Golongan Tua yang terdiri atas Soekarno, Hatta, Sudiro dan juga Soebarjo menganggap kemerdekaan Indonesia ini tidak bisa diselenggarakan secepatnya.

Alasan dari munculnya anggapan tersebut adalah khawatir apabila terjadi pertumpahan darah karena memproklamirkan kemerdekaan seperti tergesa-gesa. Terlebih pada waktu itu tentara Jepang masih banyak yang masih tinggal di Indonesia, meskipun telah kekalahan Jepang telah diumumkan.

Atas dasar ketidakpuasan dengan Golongan Tua, akhirnya Golongan Muda mengambil inisiatif sendiri dengan menculik Soekarno-Hatta. Tujuan dari penculikan ini supaya kedua tokoh penting Indonesia ini tidak terpengaruh oleh Jepang.

Pada intinya, peristiwa Rengasdengklok ini adalah untuk menjauhkan Soekarno dan Hatta yang merupakan tokoh Golongan Tua dari pengaruh Jepang. Menurut Golongan Muda, apabila Sokarno-Hatta masih berada di Jakarta, maka kemerdekaan Indonesia yang sudah dinantikan oleh seluruh rakyat Indonesia tidak akan pernah terjadi.

Baca Juga: Klasifikasi Makhluk Hidup dalam Biologi, Tujuan dan Sistemnya

Kronologi Penting Dari Peristiwa Rengasdengklok

Kronologi Penting Dari Peristiwa Rengasdengklok

Selanjutnya, setelah mengetahui latar belakang peristiwa Rengasdengklok serta tujuan dibalik peristiwa tersebut, perlu diketahui juga bagaimana kronologi dari peristiwa ini.

Baca Juga  Trust Issue: Tanda, Penyebab, Dan Cara Mengatasinya

Selengkapnya, berikut adalah kronologi atau runtutan hingga terjadinya peristiwa Rengasdengklok yang wajib diketahui oleh semua generasi masa kini.

1. Rapat yang Dilakukan Golongan Muda

Tak lama setelah kekalahan Jepang terhadap sekutu tersebar, Tan Malaka dan Chaerul Saleh melakukan rapat untuk membahas kemerdekaan Indonesia yang dipercepat. Pada saat itu Soekarno, Hatta dan Radjiman baru saja pulang setelah melakukan pertemuan dengan Panglima Jepang di Dalat, Vietnam.

Panglima Jepang tersebut membawahi untuk kawasan Asia Tenggara dan mengumumkan jika Jepang telah menyerah pada sekutu. Sebagai salah satu anggota Golongan Muda, Syahrir mendatangi Soekarno dan memberitahu hasil rapat dari Golongan Muda yang menginginkan kemerdekaan dipercepat.

Setelah mengetahui keinginan Golongan Muda tersebut, Soekarno-Hatta menyebut bahwa keinginan tersebut harus dibahas terlebih dahulu bersama dengan para anggota PPKI. Setelah terus mendapat desakan dari Syahrir, akhirnya Soekarno berjanji akan memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 15 Agustus 1945.

2. Rencana Penculikan Soekarno-Hatta

Janji Soekarno yang akan melakukan proklamasi di tanggal 15 Agustus 1945 rupanya tidak terwujud. Inilah yang memantik kemarahan para anggota Golongan Muda dan menganggap Soekarno tidak serius dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Atas dasar tidak ditepatinya janji Soekarno ini, maka menjadi latar belakang peristiwa Rengasdengklok.

Pada suatu malam jam 10, terjadilah perdebatan yang sangat sengit antara Soekarno dengan Golongan Muda mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia. Wikana, yang merupakan anggota Golongan Muda bahkan sampai mengancam Soekarno, apabila tidak segera melakukan proklamasi kemerdekaan pada saat itu juga, maka akan terjadi pertumpahan darah.

Meski mendapat ancaman demikian, Soekarno masih tidak bergeming dan tetap pada pendiriannya, jika kemerdekaan Indonesia tidak bisa diputuskan sendiri dan harus berunding dengan Golongan Tua agar tidak salah langkah. Mendengar jawaban tersebut, Golongan Muda akhirnya memutuskan untuk menculik Soekarno.

3. Penculikan Soekarno-Hatta

Sekitar pukul 3 dini hari, baik Soekarno maupun Hatta diculik dan dibawa paksa ke Rengasdengklok oleh beberapa Anggota Muda. Tokoh Rengasdengklok yang paling menonjol diantaranya ialah Wikana, Syahrir, Caehrul Saleh dan Sukarni.

Di Rengasdengklok, Soekarno tinggal di rumah seorang petani yang masih keturunan Tiong Hoa bernama Djiaw Kie Song. Rumah tersebut rupanya juga menjadi markas dari PETA Purwakarta.

Baca Juga  Cerita Pendek (Cerpen) Terbaik Tentang Tema Persahabatan

Lokasi Rengasdengklok dipilih sebagai tempat tinggal sementara Soekarno karena dinilai jauh dari Kota Jakarta serta terbebas dari pengaruh Jepang. Di lokasi inilah akhirnya Soekarno-Hatta setuju untuk melakukan proklamasi secepatnya sesuai keinginan Golongan Muda.

4. Achmad Soebarjo Manyambangi Rengasdengklok

Akhirnya, Achmad Soebarjo datang ke Rengasdengklok untuk menengahi perdebatan antara Golongan Muda dan Tua yang semakin memanas. Dengan negosiasi yang sangat alot, Soekarno dan Hatta setuju akan memproklamasikan kemerdekaan secepatnya.

Setelah mendapatkan kesepakatan tersebut, akhirnya Soekarno, Hatta, Achmad Soebarjo dan Golongan Muda kembali berangkat ke Jakarta. Rencananya, proklamasi kemerdekaan Indonesia ini akan dilakukan di kediaman Sekarno pada tanggal 17 Agustus 1945.

5. Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Di rumah Laksamana Maeda, Soekarno-Hatta membuat teks proklamasi yang disusun oleh Soekatno, Hatta dan Achmad Soebarjo. Setelah teks proklamasi selesai dibuat, Sukarni yang pada saat itu berada di sana menyarankan supaya teks proklamasi tersebut ditanda tangani.

Semua orang yang hadir di sana menyetujui jika teks tersebut ditanda tangani oleh Soekarno-Hatta. Sayuti Melik ditugaskan untuk mengetik teks proklamasi agar nantinya teks tersebut terlihat resmi sekaligus mudah dibaca.

Baca Juga: 12 Contoh Alat Musik Ritmis, Penjelasan dan Cara Memainkannya

Akhirnya, pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan untuk pertama kalinya. Pada acara yang penuh hikmat tersebut, terdapat pula sambutan dari Walikota Jakarta dan juga perwakilan pemuda. Dalam acara tersebut juga dikibarkan bendera merah putih yang dikibarkan oleh Latief Hendraningrat dan Suhud.

Sepatutnya, latar belakang peristiwa Rengasdengklok beserta kronologinya ini diketahui oleh semua generasi, khususnya kaum milenial Indonesia agar tidak lupa dengan sejarah dan perjuangan para pahlawan dalam upaya memerdekakan Indonesia. Adanya peristiwa ini membuktikan, bahwa kemerdekaan Indonesia bisa diraih tidak semudah membalik telapak tangan, tapi melalui perjuangan dan pengorbanan dalam waktu yang sangat panjang.

Sumber Refrensi Artikel:

  • Buku “The Struggle for Indonesian Independence” oleh Soekarno.
  • Buku “Revolutionary Struggle in the Philippines” oleh Agoncillo Teodoro.
  • Buku “Indonesia: The Rise of Capital” oleh Richard Robison.
  • Buku “Indonesia: Peoples and Histories” oleh Jean Gelman Taylor.
  • Buku “Jurnal Sejarah: Rengasdengklok, 16 Agustus 1945” dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Ensiklopedi Britannica Online.
  • JSTOR.
  • National Archives of Indonesia.
  • Buku “Decolonization and its Impact: A Comparitive Approach to the End of the Colonial Empires” oleh Martin Shipway.

Jangan sampai ketinggalan informasi terkini seputar teknologi dan tutorial terbaru dari Iuwashplus.or.id:

DMCA.com Protection Status