Home » Pendidikan » Apa Itu Strict Parents, Ciri-ciri dan Dampak Negatifnya untuk Anak

Apa Itu Strict Parents, Ciri-ciri dan Dampak Negatifnya untuk Anak

Belakangan ini konten dengan tema POV (Point of View) sedang sangat booming di berbagai media sosial, termasuk di TikTok dan Instagram. Salah satu POV yang kerap muncul adalah dalam hal pola asuh orang tua terhadap anak. Pola asuh sendiri sebenarnya ada banyak, dan strict parents menjadi salah satunya.

Sejumlah konten POV dengan tema ini memperlihatkan bagaimana seorang anak sangat sulit untuk mendapat izin dari orang tua ketika akan melakukan sesuatu. Sebenarnya, strict parents itu apa? Hindari cara salah dalam mendidik anak dengan memahami lebih dalam mengenai jenis pola asus yang satu ini.

Apa Itu Strict Parents?

Apa Itu Strict Parents

Istilah Strict Parents berasal dari bahasa Inggris yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia maka bermakna “orang tua yang kaku”, atau lebih familiar dengan sebutan pola asuh kaku. Sementara dari ilmu psikologi, pola asuh kaku adalah gaya asuh yang otoriter atau disebut juga authoritarian.

Orang tua yang otoriter biasanya memiliki standar sendiri dalam berbagai hal, kemudian menuntut sang anak untuk dapat memenuhi / mencapai standar tersebut. Selain otoriter, ada juga pola asuh dengan sebutan yang mirip, yaitu otoritatif (authoritative).

Pola asuh ini juga ditandai dengan standar tertentu dari orang tua dan ada tuntutan agar anak memenuhi standar tersebut, namun tuntutan ini disertai dengan kasih sayang. Sedangkan pada gaya otoriter tadi tidak disertai dengan kasih sayang, namun lebih dominan dengan paksaan dan sifat keras kepala.

Dibanding otoriter, pola asuh otoritatif biasanya lebih berhasil untuk membuat sosok anak menjadi lebih baik. Jadi, definisi dari strict parents adalah gaya asuh orang tua yang banyak menuntut anak dan tanpa curahan kasih sayang yang cukup.

Berita terkait: Nepotisme: Arti, Ciri-ciri, Dampak Negatif Dan Tips Menghindarinya

Ciri-ciri Orang Tua Strict Parents

Ciri-ciri Orang Tua Strict Parents

Secara garis besar, pola asuh orang tua terhadap anak dibedakan menjadi 4 macam, yaitu otoritatif (authoritative), otoriter (authoritarian), permisif, dan uninvolved style (acuh tak acuh). Nah, berikut ini ciri-ciri dari pola asuh otoriter yang menjadi tanda dari strict parents:

1. Pola Asuh Orang Tua Strict Parents Sangat Ketat

Contoh dari pola asuh ini adalah anak tidak boleh bermain dengan teman-temannya, tapi harus lebih banyak belajar dan menghabiskan waktu di rumah. Contoh lainnya adalah anak tidak boleh memiliki banyak teman, atau teman-temannya akan dipilihkan oleh orang tua.

Bisa dibilang bahwa aturan ketat ini sama dengan sikap sewenang-wenang dari orang tua terhadap anaknya. Jadi sang anak seolah tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan meskipun itu untuk dirinya sendiri.

2. Banyak Menuntut dan Wajib Dipenuhi

Ini dia salah satu ciri khas lain yang dimiliki oleh strict parents. Biasanya hal ini ditandai dengan banyaknya aturan dari orang tua untuk sang anak, dan disertai dengan tuntutan yang membuat anak merasa tertekan.

Baca Juga  Cerita Pendek (Cerpen) Terbaik Tentang Tema Persahabatan

Berbagai aturan yang diberikan biasanya bukan hanya mengarah pada satu hal, namun hampir di seluruh aspek kehidupan sang anak, mulai dari aturan di rumah hingga di sekolah dan berbagai tempat umum lainnya.

Aturan-aturan ini biasanya juga bukan dalam bentuk teks / tulisan terpecinci, melainkan dalam bentuk lisan yang penyampaiannya pun bisa dengan marah-marah. Sebagian orang tua bahkan tidak disampaikan menyampaikan aturan-aturan ini namun berharap anaknya sudah mengerti meski tanpa dijelaskan.

3. Tidak Memberi Ruang pada Anak

Pola asuh kaku hampir tidak pernah memberikan ruang pada sang anak, karena berbagai hal mengenai anak akan diatur seluruhnya oleh orang tua. Jadi bisa dibilang bahwa anak hanya akan hidup dengan aturan dan tuntutan orang tua, tanpa bisa mengekspresikan keinginan atau cita-citanya.

4. Memiliki Kontrol Tinggi

Orang tua yang kaku cenderung akan mengawasi dan mengontrol setiap aktivitas yang dilakukan oleh sang anak. Parahnya lagi, hal ini bukan dilakukan hanya saat anak masih kecil, namun juga terus menerus dilakukan sampai sang anak remaja dan bahkan sudah dewasa sekalipun.

5. Minim Memberi Perhatian dan Kasih Sayang

Jika kamu melihat orang tua dari teman kamu sedikit memberikan kasih sayang atau perhatian, maka inilah salah satu ciri-ciri strict parents.

Contoh dari perhatian sendiri ada banyak, seperti bertanya apakah sang anak sudah makan, bagaimana hari ini di sekolah, bagaimana dengan persiapan ujian yang sedang lakukan, dan sebagainya.

Sedangkan bentuk kasih sayang sendiri salah satunya adalah memberikan perhatian, dan bisa juga dalam wujud hadiah. Jadi saat anak sudah memenuhi tuntutan dari orang untuk menjadi juara kelas misal, maka orang tua mendapat kepuasan tapi tidak memberi apresiasi, baik dalam bentuk lisan atau hadiah.

6. Orang Tua Strict Parents Cenderung Berlebihan

Salah satu ciri khas lain dari strict parents adalah sikap orang tua yang cenderung berlebihan bahkan untuk hal-hal yang sangat kecil. Contohnya, sang anak tidak sengaja menumpahkan minuman ke lantai, kemudian ibu atau ayahnya sampai membentak atau bahkan memaki.

Padahal, minuman yang tumpah tadi masih dapat dengan mudah dibersihkan. Sementara bentakan atau makian yang diberikan akan terus membekas di hati dan tersimpan di memori otak si kecil bahkan sampai dewasa.

7. Memberi Hukuman Keras

Seolah makian atau bentakan tidak cukup, orang tua yang kaku akan dengan mudah memberikan hukuman saat sang anak dianggap telah menyalahi aturan atau gagal memenuhi ekspektasi orang tua. Misalnya pada kasus minuman tumpah tadi, sang anak akan dicubit, dijewer, atau dipukul tangannya.

Selain hukuman fisik, bisa juga orang tua otoriter memberi hukuman dalam bentuk lain yang akan merdampak luar biasa pada psikis anak, seperti:

  • Anak dikurung di kamar mandi, di gudang, atau ruangan lain selama beberapa jam dan dalam keadaan gelap.
  • Bisa juga sang anak tidak boleh makan seharian.
  • Tidak boleh keluar main dengan teman-teman selama sebulan
  • Tidak boleh jajan.
  • Mainan kesayangannya disita.
  • Anak diguyur air sampai basah kuyup.

8. Orang Tua Strict Parents Merenggut Hak Anak

Kebanyakan strict parents selalu menganggap bahwa orang tua tidak pernah salah dan pasti selalu tahu yang terbaik untuk anak-anaknya. Bermodalkan mindset yang salah ini, orang tua tidak akan membiarkan sang anak untuk memilih.

Contohnya, sang anak sebenarnya berbakat di bidang musik, namun orang tua justru memasukkannya ke tempat les matematika. Keputusan seperti ini biasanya tidak dapat diganggu gugat. Jadi, anak tidak pernah diberi ruang untuk melakukan negosiasi.

Baca Juga  Kepribadian Introvert: Pengertian, Tipe, dan Karakternya

9. Tidak Mendampingi Anak

Orang tua dengan pola asuh kaku kerap tidak melakukan tugas sebagai orang tua dengan benar, contohnya mendampingi anak saat sedang belajar. Jadi, para orang tau hanya sibuk memberi tuntutan tanpa menjelaskan bagaimana cara untuk memenuhinya, dan tidak memberikan support juga.

Alhasil, anak menjadi bingung dan cenderung merasa sangat tertekan. Disertai dengan rasa cemas dan takut dari anak jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi orang tua, maka psikologi anak akan terganggu.

10. Orang Tua Strict Parents Tidak Percaya dan Mudah Curiga

Alasan lain mengapa strict parents tidak memberi kebebasan pada anak adalah tidak adanya rasa percaya pada anak. Orang tua yang seperti ini merasa bahwa opini anak tidaklah penting, sebab anak dianggap tidak tahu apa-apa.

Tidak adanya rasa percaya juga membuat orang tua selalu was-was dan curiga terhadap anak. Misalnya saat anak telat pulang dari sekolah, para orang tua yang otoriter akan langsung negatif thinking dengan mengira anaknya sengaja kelayapan atau asik main dengan teman sehingga telat pulang.

Padahal bisa saja di jalan sedang macet, atau di sekolah ada kegiatan yang membuat para siswa telat pulang. Biasanya meski sang anak sudah jujur sekalipun, orang tua yang seperti ini tetap selalu dipenuhi dengan rasa curiga yang berasal dari pikirannya sendiri.

11. Komunikasi Hanya Satu Arah

Satu lagi ciri-ciri pola asuh kaku adalah sistem komunikasi yang diterapkan tidak terbuka atau dua arah, melainkan hanya satu arah, yaitu dari orang tua kepada anak. Jadi orang tua hanya sibuk mendikte tanpa ingin mendapat protes atau penolakan dari anak. Suka atau tidak, sang anak harus tetap setuju.

12. Kerap Mempermalukan Anak

Mempermalukan anak di depan orang lain seolah menjadi hal yang lumrah dan bukan suatu hal negatif bagi strict parents. Saat anak dianggap melakukan kesalahan, maka orang tua jenis ini bisa langsung memarahi anak di depan siapapun itu dan tidak kenal tempat.

Menurut mereka, cara seperti ini akan membuat anak lebih patuh dan dapat memenuhi aturan orang tua. Sebagian juga menganggap bahwa cara ini akan memotivasi anak. Orang tua juga tidak segan membanding-bandingkan anak dengan anak lain di depan umum dengan tujuan yang serupa di atas.

13. Mengutamakan Akademik

Bagi kebanyakan strict parents, nilai akademik yang bagus adalah yang paling penting. Jadi sedari kecil, sang anak akan dituntut untuk menjadi juara.

Padahal, prestasi di bidang lain seperti olahraga atau seni juga bisa membuat seseorang menjadi sukses. Karena lebih mengutamakan nilai akademik, maka anak yang berbakat sekalipun tidak akan mendapat dukungan.

Berita terkait: Persepsi Adalah: Pengertian, Jenis, Faktor Dan Contohnya

Dampak Negatif Strict Parents

Dampak Negatif Strict Parents

Pola asus yang kaku dianggap dapat membuat sang anak menjadi lebih ambisius sehingga bisa sukses di masa depan. Padahal faktanya, ada banyak dampak negatif seperti berikut ini:

1. Sulit Membuat Keputusan

Saat seorang anak dibesarkan dengan pola asuh seperti di atas, maka kemampuannya dalam mengambil keputusan tidak bisa berkemang dengan optimal. Padahal, soft skill ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama saat sudah di dunia kerja.

2. Akademis yang Buruk

Bukannya mendapat nilai yang bagus dan menjadi juara kelas, justru anak strict parents akan lebih sulit untuk berprestasi di bidang akademik.

Penyebabnya adalah anak tidak mendapat dukungan positif dari orang tua, baik dalam bentuk lisan atau pun dampingan seperti menemani belajar. Anak merasa bahwa nilai akademis merupakan sebuah paksaan dari orang tua, bukan hal yang ia inginkan.

Baca Juga  Tabel Perkalian Anak 1-10 Lengkap dengan Cara Hapalnya

3. Anak Merasa Tidak Aman

Jika sejak kecil selalu dikontrol oleh orang tua, maka anak akan merasa hidupnya terkekang. Anak juga akan selalu merasa diawasi sehingga tidak bisa menikmati apapun aktivitas yang sedang dilakukan, termasuk ketika sedang bermain dengan teman.

4. Terlalu Patuh atau Sebaliknya

Bahaya strict parents lainnya adalah membuat anak menjadi sosok yang sangat patuh dan penakut, atau justru menjadi pemberontak dan kerap melanggar aturan / tidak disiplin.

5. Suka Berbohong

Anak yang terlalu dikekang biasanya akan lebih mudah bohong kepada orang tua. Hal ini dilakukan agar anak dapat melakukan hobi atau hal lain yang sebenarnya diminati namun orang tua tidak memberi dukungan.

6. Mudah Minder

Karena kerap dipermalukan di depan orang lain, maka anak-anak dari strict parents akan menjadi pribadi yang mudah merasa rendah diri. Kepribadian yang seperti ini akan berpengaruh terhadap kemampuan sosialisasi anak, sehingga sulit mendapat teman.

Rendahnya rasa percaya diri juga berdampak pada buruknya kemampuan public speaking yang sebenarnya sangat dibutuhkan di dunia pendidikan dan kerja. Hal ini pun akan berdampak pada hubungan interpersonal yang rendah termasuk dalam asmara.

7. Gangguan Kecemasan

Dampak strict parents memang tidak main-main karena bisa menimbulkan gangguan kecemasan pada anak. Hal ini membuat anak akan sulit untuk mengatasi stress. Padahal, stress yang tidak diatasi dengan baik dapat mendatangkan berbagai penyakit.

8. Sulit untuk Mandiri

Pola asuh otoriter membuat anak tidak dapat mandiri sejak dini, sehingga saat sudah dewasa akan selalu membutuhkan orang lain. Hal ini akan membuat anak lebih sulit untuk sukses, baik di akademis atau pun pekerjaan.

9. Mudah Marah

Banyaknya tuntutan dan tekanan, aturan yang ketat, dan kerap mendapat hukuman akan membuat anak menjadi pribadi yang mudah marah.

Mengapa? Sebab saat masih kecil, anak tidak diberikan pembelajaran untuk dapat mengelola emosinya dengan baik. Selain itu, anak juga akan mencontoh sikap orang tuanya yang kasar, agresif, dan mudah marah.

Berita terkait: Narasi Adalah: Pengertian, Jenis, Contoh, Element, Dan Fungsinya

Alasan Orang Tua Menjadi Strict Parents

ilustrasi orang tua marah marah

Bukan tanpa alasan atau sesuatu yang tidak sengaja, ada penyebab mengapa seseorang bisa menjadi sosok otoriter. Ini dia beberapa alasannya:

1. Pengalaman Masa Kecil

Menurut penelitian, sebagian orang tua akan menerapkan pola asuh yang sama seperti didikan orang tuanya saat masih kecil. Artinya, anak-anak yang dididik secara otoriter akan menerapkan hal yang sama kepada anak-anaknya kelak. Pada akhirnya, kondisi ini akan menciptakan lingkaran setan.

Namun, lingkaran ini dapat dipotong jika sang anak paham bahwa pola asus tersebut berdampak negatif, kemudian ia mulai mempelajari ilmu parenting yang benar untuk diterapkan di masa depan, ditambah saat sudah dewasa dia memang berada di lingkungan pertemanan yang positif.

2. Karakter Bawaan

Masing-masing orang memiliki kepribadian yang unik, ada yang ramah, mudah marah, over confident, dan sebagainya. Orang-orang dengan karakter bawaan yang memang sudah keras kepala, kaku, dan kolot biasanya memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mendidik anak secara otoriter.

3. Neurotisme Tinggi

Menurut isi Iranian Journal of Psychiatry yang diterbitkan pada tahun 2018, strict parents cenderung memiliki neurotisme yang tinggi. Neurotisme sendiri adalah suatu bagian dari otak manusia yang menjadi tempat untuk pengelolaan emosi.

Seseorang dengan neurotisme tinggi biasanya mudah cemas, kerap merasa ragu, sering negatif thinking, mudah curiga, dan gampang depresi. Jika tidak mendapat perawatan yang tepat, maka orang seperti ini memiliki menerapkan pola asuh kaku.

Cara Menghadapi Strict Parents

ilustrasi gambar orang tua marah kepada anaknya

Meski tidak mudah, berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh anak yang memiliki orang tua kaku:

  • Hindari stress dengan terus berpikir positif.
  • Alihkan pikiran negatif dengan melakukan hobi.
  • Lakukan komunikasi 2 arah untuk memberi pengertian kepada orang tua secara perlahan.
  • Minta orang lain yang lebih berpower untuk menasehati orang tua.
  • Tunjukkan pada orang tua bahwa apa yang kamu minati juga memiliki manfaat.
  • Saat orang tua marah-marah tidak perlu terlalu didengarkan atau dijadikan beban pikiran.
  • Sering doakan orang tua agar hatinya menjadi lebih lunak dan bisa memahami keinginan anak.
  • Sesekali, utarakan isi hati secara jujur bahwa pola asuh mereka justru membahayakan anak.

Kesimpulannya, strict parents adalah pola asuh yang justru akan melahirkan sosok kurang berkualitas. Ada banyak dampak negatif pada kepribadian dan psikis anak yang justru bisa menghambat kebahagiaan dan kesuksesannya di masa depan. Sebarkan informasi penting ini pada orang-orang di sekitar.

Aktifkan notifikasi untuk berita dan artikel terbaru kami di Google News iuwashplus.or.id

Jangan sampai ketinggalan informasi terkini seputar teknologi dan tutorial terbaru dari Iuwashplus.or.id:

DMCA.com Protection Status