Home » Pendidikan » Pengertian Buku Fiksi, Ciri-ciri, Struktur, dan Jenisnya Lengkap

Pengertian Buku Fiksi, Ciri-ciri, Struktur, dan Jenisnya Lengkap

Iuwashplus.or.id Buku merupakan salah satu sumber ilmu terbaik bagi manusia. Orang-orang yang ingin memiliki pengetahuan atau wawasan yang luas harus terbiasa dan senang untuk membaca buku. Nah, secara umum, buku terbagi menjadi dua jenis, yaitu buku fiksi maupun buku non-fiksi.

Setiap buku ditulis untuk menyampaikan pesan tersendiri bagi setiap pembacanya. Oleh karena itu, tidak semua orang harus menyukai satu buku yang sama, akan tetapi bisa memilih sesuai dengan keinginan masing-masing. Misalnya, Anda suka membaca buku karangan, dongeng, atau puisi.

Sementara itu, teman Anda justru lebih menyukai buku-buku yang membahas tentang pelajaran atau pengetahuan umum. Tidak ada yang salah dan benar antara keduanya, semuanya hanya tentang selera. Jadi, silakan membaca buku sesuai minat agar memiliki pengetahuan yang lebih banyak.

Pengertian Buku Fiksi

Istilah fiksi berasal dari kata “fiction” yang memiliki arti rekaan, khayalan, atau karangan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Jadi, fiksi dapat didefinisikan sebagai salah satu karya sastra yang dibuat berdasarkan imajinasi penulis untuk menggambarkan suatu peristiwa atau seseorang.

Dalam hal ini, tokoh yang ada dalam cerita fiksi hanyalah karangan penulis saja yang dibuat dengan sedemikian rupa agar seperti benar-benar ada. Berdasarkan proses penulisan, fiksi terbagi atas 2 bagian, yaitu sumber penciptaan dan prosesnya.

Sumber penciptaan merupakan cerita fiksi yang dibuat karena terinspirasi dari hal-hal yang ada di dunia, terutama yang terjadi di lingkungan sekitar penulis. Jika menggunakan sudut pandang seperti ini, karya fiksi hampir sama dengan non fiksi yang juga terinspirasi dari kehidupan nyata.

Dalam proses penulisan fiksi, pengarang akan memberikan respon terhadap segala sesuatu yang terjadi berdasarkan imajinasinya. Hal inilah yang menyebabkan pembaca yang akan merasa seperti menyaksikan kejadian dalam cerita tersebut secara langsung di dunia nyata.

“Buku adalah jendela dunia.”Michael Ende

Ciri-Ciri Karya Fiksi

Ciri-Ciri Karya Fiksi

Setelah memahami pengertian dari karya fiksi, selanjutnya Anda wajib untuk mengenal apa saja ciri-cirinya.

Beberapa ciri berikut ini akan membedakan fiksi dengan karya sastra lainnya.

1. Bersifat Rekaan (Fiktif)

Ciri utama dari karya fiksi yang dapat dilihat adalah melalui sifatnya. Fiksi dibuat bersifat rekaan atau berdasarkan imajinasi dari penulisnya. Dalam hal ini, untuk menulis sebuah fiksi, Anda harus memasukkan unsur imajinasi yang dominan di dalam cerita namun dibuat seolah-olah itu nyata.

Menarik atau tidaknya sebuah karya fiksi sangat tergantung pada imajinasi penulis. Maka tidak heran, jika beberapa cerita fiksi yang terasa diluar nalar tetapi sangat keren dan membuat pembaca terlarut di dalamnya. Untuk menciptakan imajinasi, penulis dapat membaca maupun mengasah intuisi.

2. Kebenaran Adalah Relatif

Oleh karena dibangun atas imajinasi, maka kebenaran yang ada di cerita fiksi bersifat relatif atau tidak mutlak. Semua pendapat pembaca akan dianggap benar tergantung dari sudut pandang yang mereka gunakan. Dengan demikian, akan sulit untuk memperdebatkan argumen di dalam fiksi.

Misalnya, cerita nenek tua mendaki gunung. Jika berpikir realistis, maka tidak mungkin nenek tua tersebut mampu berjalan atau mendaki hingga puncak gunung yang sangat tinggi. Apalagi medannya yang cukup terjal dan menantang yang membuat dia bisa kelelahan bahkan pingsan.

Baca Juga  161 Contoh Gurindam Nasihat, Agama, Jenaka dan Pendidikan

Akan tetapi, di dalam cerita nenek tua memiliki ilmu tertentu sehingga kekuatannya masih seperti anak muda. Nah, kasus si nenek tersebut memang tidak masuk akal karena mengandalkan imajinasi namun dengan pemilihan diksi dan pembangunan cerita yang apik, maka pembaca dapat menerimanya.

3. Bahasa Konotatif

Bahasa yang digunakan dalam bacaan yang tidak mengandung makna sebenarnya disebut dengan bahasa konotatif. Hal ini digunakan untuk menulis cerita fiksi dalam menggambarkan sesuatu. Artinya, penulis tidak menyampaikan informasi secara langsung, melainkan dengan tersirat.

Misalnya, Ciara memang anak emas di keluarga. Segala sesuatu yang diinginkan anak itu, pasti akan dikabulkan. Kata “anak emas” bukan berarti Ciara memiliki banyak emas, akan tetapi “anak kesayangan” di keluarganya sehingga wajar jika apa yang ia inginkan pasti langsung diberikan.

Penggunaan bahasa konotatif dalam fiksi adalah untuk memperindah bahasa. Pembaca akan lebih tertarik jika dalam buku fiksi terdapat banyak bahasa konotatif. Bahkan, bahasa tersebut sering menjadi bagian yang paling diingat saat seseorang membaca karya fiksi.

4. Tidak Ada Standar Penulisan yang Baku

Karya fiksi secara umum tidak memiliki standar penulisan yang baku. Jadi, setiap penulis dapat berimajinasi sebebas mungkin lalu menuangkannya dalam tulisan. Pembuatan fiksi tidak akan terikat dengan aturan apapun seperti layaknya buku non fiksi yang harus menyajikan data dan fakta.

Hal ini disebabkan karena penciptaan fiksi memang hanya sebuah rekaan. Akan tetapi, pembaca juga tidak dapat menganggap bahwa kisah yang ada dalam fiksi semuanya berasal dari kisah nyata. Bahkan, jika penulis menggunakan kisah nyata pasti akan diubah beberapa bagian sesuai keinginan.

5. Fokus Pada Emosi Pembaca

Karya fiksi akan berfokus pada emosi pembaca, baik positif maupun negatif. Penulis akan membangun cerita yang membuat pembaca menjadi terbawa suasana dan terlarut dengan membuat konflik yang menarik. Nah, alur dan pemilihan diksi yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap pikiran pembaca.

Umumnya, penulis menempatkan diri sebagai pembaca untuk membangun emosi yang tepat. Misalnya, cerita manusia super yang memiliki kemampuan unik yaitu menghilang. Oleh karena itu, cerita akan didukung dengan mantra atau atribut tokoh yang digunakan agar bisa menghilang.

Struktur Buku Fiksi

Struktur Buku Fiksi

Meskipun tidak memiliki aturan penulisan yang baku, akan tetapi karya fiksi juga harus ditulis dengan menggunakan struktur yang bagus.

Hal ini bertujuan agar pembaca bisa memahami isi cerita dengan jelas tanpa merasa bingung. Adapun struktur yang dimiliki oleh cerita fiksi ada 6, diantaranya:

1. Abstrak

Abstrak merupakan halaman depan yang umumnya ada di buku atau cerita fiksi. Akan tetapi, bagian ini tidak bersifat wajib atau harus ada. Penulis bisa saja tidak melampirkan abstrak jika merasa tidak membutuhkan atau penerbit tidak menjadikan hal tersebut sebagai persyaratan.

Keberadaan abstrak berfungsi untuk memberikan gambaran terkait isi dari cerita. Jadi, pembaca dapat memprediksi apa yang menjadi pokok pembahasan dalam buku dan memutuskan untuk membacanya secara keseluruhan atau tidak. Oleh karena itu, abstrak biasanya ditulis dengan bahasa yang menarik.

2. Orientasi

Bagian cerita fiksi yang diletakkan pada bagian awal disebut dengan orientasi. Bagian ini terdiri dari latar belakang, tema, serta penokohan yang berfungsi untuk menjelaskan teks cerita yang telah ditulis. Jadi, saat membaca bagian orientasi, Anda dapat mengetahui latar belakang terjadinya cerita tersebut.

Baca Juga  8 Contoh Kata Pengantar Makalah Kelompok dan Individu

Selain itu, tokoh-tokoh serta penggambaran akan karakternya juga akan diketahui pada bagian ini. Misalnya, pagi ini aktivitas Cika masih sama seperti sebelum-sebelumnya, tidur nyenyak dan malas untuk bangun ke sekolah. Artinya, tokohnya adalah Cika yang memiliki sifat pemalas.

3. Komplikasi

Seperti namanya, komplikasi dalam cerita fiksi merupakan bagian klimaks atau puncak. Hal ini ditandai dengan terjadinya permasalahan atau konflik yang menjadi sumber masalah dan menguras emosi pembaca. Komplikasi biasanya berupa pertentangan yang berpusat pada tokoh utama.

Bagian cerita fiksi ini harus disampaikan dengan bahasa yang jelas agar pembaca bisa memahaminya dengan sempurna. Emosi yang ingin dituangkan oleh penulis harus bisa ditangkap oleh pembaca yang membuat mereka turut merasakan permasalahan yang terjadi.

4. Evaluasi

Jika terjadi permasalahan, maka orang-orang akan menunggu solusi untuk keluar dari masalah tersebut. Struktur fiksi bagian evaluasi berfungsi untuk mengarahkan pembaca pada solusi yang akan diberikan nantinya. Dalam hal ini, evaluasi digunakan sebagai pengantar penyelesaian persoalan.

Misalnya, puncak konflik dari cerita fiksi anak remaja adalah terjadinya tawuran antar sekolah. Evaluasi yang dihadirkan penulis adalah salah seorang temannya berinisiatif untuk memanggil guru agar melerai mereka. Alhasil, tawuran tersebut bisa dikendalikan serta dibubarkan.

5. Resolusi

Resolusi merupakan akhir dari segala masalah yang diangkat dalam cerita fiksi. Jika pada cerita tersebut tokoh utama terancam untuk dikeluarkan dari sekolah karena selalu nakal dan tawuran, maka resolusi yang bisa diberikan adalah perubahan sikap sang anak menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, ia tetap bisa bersekolah seperti biasanya. Selain itu, jika penulis ingin memberikan resolusi lain seperti anak tersebut akhirnya dikeluarkan karena telah berbuat banyak kesalahan. Permasalahan akan selesai meskipun tidak berakhir dengan membahagiakan.

6. Koda

Koda atau reorientasi adalah struktur cerita fiksi yang berfungsi untuk menyampaikan amanat dari penulis. Umumnya, koda berisi pesan moral positif yang dapat dipetik oleh pada pembaca. Misalnya, berhemat memang sangat penting untuk diterapkan kepada anak sejak kecil agar tidak boros.

Jenis-Jenis Buku Fiksi

Jenis-Jenis Buku Fiksi

Secara umum, cerita fiksi yang dibuat oleh pengarang terdiri dari beberapa jenis. Jadi, Anda dapat memilih untuk membuat atau membaca fiksi sesuai keinginan, misalnya cerpen, puisi, cergam, novel, dan lain sebagainya.

Nah, berikut ini terdapat uraian lengkap terkait jenis-jenis cerita fiksi.

1. Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita fiksi yang banyak dijumpai di berbagai bacaan adalah cerita pendek atau cerpen. Fiksi dibuat berdasarkan imajinasi penulis dan tidak berlandaskan fakta atau kenyataan yang ada. Meskipun demikian, penulis juga tidak hanya akan mengarang cerita secara keseluruhan.

Beberapa cerpen juga dibuat karena terinspirasi oleh cerita kehidupan nyata yang dikembangkan dengan imajinasi. Jadi, peran kisah nyata hanya sebagai referensi, namun tokoh, alus cerita, dan pengungkapan masalah demi masalah yang muncul akan disesuaikan dengan keinginan penulis.

Cerpen biasanya ditulis dengan gaya naratif sehingga terdapat dinamika dalam menyajikan setiap bagian ceritanya. Salah satu aturan jumlah kata yang dimiliki cerpen adalah maksimal 10.000. Beberapa contoh judul cerpen yaitu Kenangan Manis, Cerita Senja, Luka Terdalam, dan lain-lain.

2. Novel

Anda pasti tidak asing lagi dengan novel. Karya sastra ini bisa dijumpai di perpustakaan maupun toko buku. Novel didefinisikan sebagai karangan prosa yang menceritakan tentang kehidupan seseorang beserta orang yang ada di sekelilingnya melalui penggambaran sifat setiap tokoh.

Novel memiliki unsur ekstrinsik maupun intrinsik seperti tema, penokohan, latar, plot atau alur, amanat, serta latar belakang sosial budaya masyarakat. Untuk membaca novel, Anda membutuhkan waktu yang cukup banyak karena dibuat dalam banyak halaman. Selain, terdapat beberapa ciri novel, seperti:

  • Jumlah kata maksimal 35.000
  • Ditulis dengan gaya naratif dan deskriptif
  • Memiliki alur yang kompleks, seperti konflik awal, klimaks, antiklimaks, serta penyelesaian dari konflik yang telah dibuat
Baca Juga  Bunyi Hukum Newton 1, 2 dan 3 (Rumus dan Pengertian Lengkap)

3. Komik

Komik termasuk dalam salah satu jenis buku fiksi yang disajikan dengan visual menarik. Karya ini mengandung banyak gambar dibandingkan dengan tulisannya. Jadi, bagi Anda yang senang dengan gambar, tentu akan cocok untuk membaca berbagai jenis komik.

Umumnya, anak-anak senang membaca komik karena penyajian alur cerita, tokoh, dan temanya disusun dengan menggabungkan teks dengan gambar. Para penulis komik harus tidak hanya pandai mengarang cerita, tetapi juga memiliki kemampuan menggambar yang bagus.

Di Indonesia, beberapa contoh komik yang banyak disukai seperti Detective Conan, One Piece, dan masih banyak lagi. Karya fiksi ini bisa dibeli melalui toko buku secara langsung dengan kisaran harga yang berbeda-beda.

4. Kumpulan Dongeng

Sejak kecil, Anda pasti sering mendengar atau bahkan membaca cerita dongeng. Karya fiksi ini umumnya berisi tentang cerita rakyat yang digabungkan dengan imajinasi penulis. Konflik yang dibuat di dalam dongeng cukup ringan karena target pembacanya adalah anak-anak.

Meskipun demikian, harus berisi amanat yang bagus dan bermanfaat untuk dibaca. Misalnya, dongeng Maling Kundang yang bercerita tentang anak yang durhaka terhadap orang tuanya akan mendapatkan balasan yang buruk. Jad, anak-anak bisa memetik pelajaran agar tidak berperilaku yang sama.

5. Cerita Bergambar (Cergam)

Selain komik, juga terdapat karya fiksi lain yang memiliki visual yang menarik adalah cerita bergambar (cergam). Cerita ini pertama kali dicetuskan di Indonesia oleh seorang komikus asal Medan bernama Zam Nuldyn pada tahun 1970-an. Kemudian istilah cergam resmi muncul di majalah pada tahun 2006.

Cergam merupakan cerita fiksi yang dibuat dan dilengkapi dengan gambar. Artinya, isinya berupa cerita dan gambar hanya berfungsi sebagai pelengkap. Sementara itu, komik adalah sekumpulan gambar yang berisi cerita. Akan tetapi, perdebatan antara cergam dan komik masih terjadi hingga saat ini.

Sebagian orang masih ada yang berpikir bahwa keduanya sama, namun sebagian lagi percaya bahwa komik dan cergam adalah berbeda. Selain itu, komik biasanya ditulis dalam bentuk buku saku, sedangkan cergam ditulis dalam satu halaman saja dan dimuat di majalah, surat kabar, dan lainnya.

6. Puisi

Nah, cerita fiksi lain yang sangat sering dibaca atau dilihat adalah puisi. Puisi adalah karya sastra yang dibuat untuk menyampaikan pikiran, isi hati, maupun pendapat pengarang. Jika contoh fiksi sebelumnya berukuran panjang, maka puisi ditulis dengan pendek dengan ciri-ciri seperti berikut.

  • Menggunakan bahasa konotatif
  • Berisi ungkapan, isi hati, pikiran, maupun perasaan pengarang
  • Memiliki diksi yang memperhatikan bunyi atau irama
  • Terdapat pemadatan unsur daya bahasa
  • Dapat dibentuk oleh tipografi

Puisi terbagi menjadi 2, yakni puisi lama dan baru. Bentuk-bentuk puisi lama seperti talibun, syair, gurindam, pantun, serta mantra. Gaya bahasa yang digunakan puisi ini cenderung klise atau statis. Inspirasi pembuatan puisi lama berasal dari sastra lisan yang disampaikan dari orang ke orang.

Selain itu, puisi lama seperti pantun dan gurindam memiliki rima tersendiri. Adapun untuk puisi baru dibuat secara bebas tanpa terikat peraturan seperti rima, baris, irama, dan lain sebagianya. Gaya bahasa yang digunakan pun cukup dinamis atau berubah-ubah sesuai tema dan keinginan penulis.

Sebelum membaca atau menulis buku, Anda dapat memilih jenis yang disukai, seperti buku fiksi atau non fiksi. Karya fiksi dibangun berdasarkan khayalan atau imajinasi penulisnya, sehingga peristiwa yang terdapat dapat cerita tidak benar-benar terjadi di dalam dunia nyata.

Sumber Refrensi Artikel:

  • Gramedia
  • Elex Media Komputindo
  • Mizan
  • Bentang Pustaka
  • Gagas Media
  • https://kbbi.web.id/nonfiksi

Jangan sampai ketinggalan informasi terkini seputar teknologi dan tutorial terbaru dari Iuwashplus.or.id:

DMCA.com Protection Status