English Indonesia
Rabu, 6 Maret 2019

USAID IUWASH PLUS dan USAID APIK Bahas Dokumen Kajian Kerentanan Mata Air untuk Empat Mata Air di Kota Batu

USAID IUWASH PLUS dan USAID APIK Bahas Dokumen Kajian Kerentanan Mata Air untuk Empat Mata Air di Kota Batu

USAID IUWASH PLUS dan USAID APIK (Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan) melakukan pertemuan koordinasi tentang penyusunan dokumen Kajian Kerentanan Mata Air (KKMA) untuk empat mata air di Kota Batu, yaitu Binangun, Banyuning, Gemulo, dan Darmi.

Keempat mata air tersebut merupakan sumber air baku bagi PDAM dan masyarakat di Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang.

Pertemuan koordinasi ini diselenggarakan pada 25 dan 26 Februari 2019 di Kantor USAID IUWASH PLUS di Kota Surabaya sebagai bagian dari kerja sama USAID IUWASH PLUS dan USAID APIK untuk melindungi dan meningkatkan debit mata air keempat mata air tersebut.

Enam belas orang, termasuk staf USAID IUWASH PLUS, USAID APIK, dan perwakilan USAID hadir dalam acara ini.

Pertemuan ini bertujuan menyempurnakan rancangan dokumen KKMA yang dikembangkan oleh USAID IUWASH PLUS dan USAID APIK sejak Desember 2018 serta mendiskusikan rencana tindak lanjutnya.

“Program [KKMA] yang dilakukan USAID IUWASH PLUS dan USAID APIK sangat membantu untuk mengatasi masalah lingkungan di wilayah Batu sebagai hulu sungai Brantas. Untuk itu, rekomendasi kegiatan terkait KKMA harus disesuaikan dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Hal ini penting untuk menghindari kemungkinan ketidaksesuaian rencana aksi KKMA yang akan dilakukan [dengan kondisi lapangan],” ujar Endah Shofyani, USAID A/COR.

Dalam pertemuan ini, USAID IUWASH PLUS mempresentasikan matriks rencana aksi yang akan digunakan untuk KKMA di Kota Batu. Selain itu, USAID APIK juga menjelaskan bahwa programnya mempunyai kemungkinan besar untuk menilai adaptasi iklim di sektor air, salah satunya, karena telah berpengalaman bekerja dengan pemangku kepentingan di sektor air, seperti DAS Brantas. USAID APIK juga menjelaskan bahwa rancangan peraturan daerah tentang pengelolaan air sangat diperlukan agar konservasi air di Kota Batu dapat dilakukan secara lebih konsisten.

Para peserta juga membahas tentang poin-poin kunci yang perlu dipertimbangkan dalam dokumen akhir KKMA, antara lain (1) metodologi terkait ketangguhan dan matriks rencana aksi, (2) data jumlah orang yang mendapat manfaat dari mata air Binangun, Banyuning, Gemulo, dan Darmi, (3) kualitas setiap mata air, (4) dampak lingkungan yang dihasilkan dari rencana aksi KKMA, dan (5) Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang dikembangkan oleh pemerintah Kota Batu.

Sebagai tindak lanjut pertemuan koordinasi ini, USAID IUWASH PLUS dan USAID APIK berencana melakukan audiensi publik tentang dokumen KKMA pada bulan Maret 2019. Untuk memfinalkan dan melaksanakan dokumen KKMA, USAID APIK akan memimpin koordinasi dengan tim KKMA pemerintah Kota Batu. Selanjutnya, USAID IUWASH PLUS akan memimpin proses teknis yang mencakup analisis KKMA dan survei lapangan.

 

Available in enEnglish (English)

Mitra