English Indonesia
Senin, 13 November 2017

Tangki Septik Bersama untuk Lahan Terbatas

Tangki Septik Bersama untuk Lahan Terbatas

“Dengan menjaga lingkungan dan tetap mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat, kami ingin anak cucu kami bisa menjadi generasi yang cemerlang di mana depan,” ungkap Pak Dwi, Ketua RW 02, Kelurahan Sukun, Kota Malang. Dalam mengemban tugasnya, Pak Dwi mempunyai cita-cita yang mulia untuk memperbaiki kondisi lingkungan di wilayahnya.

Keadaan lingkungan di RW 02 Kelurahan Sukun cukup memprihatinkan. Lingkungan ini dihuni sekitar 500 kepala keluarga (KK), dan 100 KK di antaranya tinggal di bantaran sungai. Mereka menempati rumah yang saling berhimpitan dengan lahan terbuka yang sangat terbatas. Dengan keadaan tersebut, warga tidak mempunyai tangki septik dan membuang langsung air limbah rumah tangga ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Selain itu, kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang perilaku higiene juga masih kurang, sehingga sering terjadi kasus penyakit diare yang mewabah di lokasi tersebut.

)Bantaran sungai

Pada tahun 2014, program USRI melakukan pembangunan Tangki Septik Bersama, yang biasa disebut IPAL Komunal. Sayangnya, hanya 20 KK yang menyambung saluran pembuangan limbahnya ke IPAL Komunal yang mempunya kapasitas untuk 60 KK. Menurut Pak Dwi, ini disebabkan kurangnya sosialisasi awal sebelum pembangunan, sehingga warga tidak terpicu untuk menyambung ke IPAL. Ditambah lagi adanya biaya sambungan rumah yang harus ditanggung oleh warga yang ingin menyambung ke pipa induk. Sehingga warga yang tidak mampu, tidak menyambung ke IPAL. Selain itu juga tidak tersedianya biaya untuk pemeliharaan sehingga saat ini IPAL tidak dioptimalkan sebagaimana mestinya.

Untuk mengatasi ini, Ketua RW 02 bersama Ketua RT 05 dan jajarannya menggandeng kader kesehatan setempat dan mulai melakukan sejumlah kegiatan sosialisasi yang didukung USAID IUWASH PLUS. Sosialisasi yang dilakukan terkait sanitasi dan air bersih yang aman, perilaku hidup bersih dan sehat, dan cuci tangan pakai sabun pada anak-anak sekolah yang nantinya bisa menjadi contoh bagi orang tua atau orang dewasa untuk dapat mengikuti dan menjadi budaya, sampai pada peningkatan kapasitas tentang pengelolaan air limbah rumah tangga yang aman.

Dengan didukung USAID IUWASH PLUS, Pak Dwi membentuk KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) sebagai wadah perencanaan masyarakat untuk pengajuan usulan solusi permasalahan lingkungan di RW 02.
“Rencana Kerja Masyarakat (RKM) telah kami usulkan kepada Musrembang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) di tingkat Kelurahan. Hasilnya, kami mendapatkan perhatian dari Dinas PU yang akan membangun penambahan IPAL Komunal di tahun 2018, serta penyediaan dana pemeliharaan untuk IPAL komunal yang lama di R T05,” jelas Pak Dwi.

KSM RW 02 Kelurahan Sukun

Dengan perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah, Pak Dwi bersama jajarannya dan kader setempat akan mengoptimalkan kembali IPAL Komunal yang sudah ada melalui sosialisasi secara intensif kepada warga. “Melalui kegiatan yang intensif tersebut, saya berharap warga RW 02 dapat terpicu untuk melakukan penyambungan saluran pembuangan air limbah rumah tangganya kepada IPAL Komunal dan mengimplementasikan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga tidak terjadi lagi wabah penyakit seperti diare, demam berdarah dan sebagainya,” harap Pak Dwi.
(Aris Rizqiawan/USAID IUWASH PLUS EJRO

Available in enEnglish (English)

Mitra