English Indonesia

Perumda Air Minum Kota Magelang Beralih dari Teknik Deteksi dan Perbaikan Kebocoran Air Tradisional kepada Cara Mutakhir

Perumda Air Minum Kota Magelang Beralih dari Teknik Penanggulangan Kebocoran dan Perbaikan Air Minum Tradisional ke Teknik Modern

Air tidak berekening (NRW) atau kehilangan air masih menjadi tantangan besar bagi Perumda Air Minum Kota Magelang dalam menyuplai air minum bagi warga kota. Sejak Agustus hingga Desember 2020, Perumda tersebut  mencatat rata-rata kehilangan air sebanyak 381 liter per detik atau 60% dari total air yang diproduksi. Air tidak berekening (NRW) bisa disebabkan oleh berbagai alasan, termasuk kebocoran pipa.

Sayangnya, menurut Asisten Manajer Pengendalian Kehilangan Air Perumda Air Minum Kota Magelang, Pak Ragil, pendeteksian kebocoran pipa belum dilakukan secara aktif dan rutin karena hanya bergantung pada laporan petugas meter atau warga yang kebetulan melihat kebocoran air di permukaan. Ragil menambahkan, “Untuk perbaikan, kami hanya menggunakan teknik turun-menurun yang disebut ‘pacel’. Jika pada karet sambungan pipa ada yang bocor, kami akan sisipkan potongan kayu, seperti bambu, sampai bocornya mampet.”

Pada bulan Mei-Juni 2021, Perumda Air Minum Kota Magelang bersama Kemitraan USAID-SECO mendeteksi kebocoran pipa pada Jalur Transmisi Kalimas 2 (4 km) dan Jalur Transmisi Bandongan (1 km). Kemitraan USAID-SECO meminjamkan satu set alat pendeteksi kebocoran pipa mutakhir kepada Perumda, yakni hand-held clamp-on ultrasonic flow meter (KATflow200), digital listening stick (Primayer GXG Mikron 3 Junior Operation), water leakage ground microphone sytsem (Mikron3 Primayer), dan leak listening system (Hykron Primayer), dan memandu mereka dalam menggunakan peralatan tersebut. Pendeteksian ini berhasil mengonfirmasi sebelas titik kebocoran dengan tingkat kehilangan air pada setiap titik mencapai 1-2 liter per detik.

“Awalnya kami agak ragu dengan alat-alat itu. Tapi setelah terbukti, kami sadar, ‘oh, memang benar ternyata bisa.’,” kata Ragil. Ragil dan timnya mengaku banyak belajar dari proses perbaikan tersebut.

Dia menjelaskan, “Kami belajar material apa yang harus digunakan. Karet yang kami gunakan [untuk menyumbat pipa] ternyata harus lebih bagus lagi. Kalau [menambal kebocoran] pakai teknik pacel ternyata tidak akan tahan lama karena kayu bisa busuk. Kami belajar kalau lebih baik pakai repair clamp yang bisa dipesan terlebih dahulu agar presisi. Sebelumnya, kami hanya pakai repair clamp untuk kebocoran besar, untuk yang kecil pakai pacel itu.”

Ragil menambahkan,  berbekal ilmu yang diperoleh dari kegiatan ini, Perumda Air Minum Kota Magelang akan melanjutkan pendeteksian dan perbaikan kebocoran secara mandiri di daerah hilir dan pada pipa-pipa distribusi dengan meminjam peralatan pendeteksi kebocoran air dari Akatirta. Ia pun optimis bahwa pendeteksian dan perbaikan kebocoran yang aktif dan rutin akan berujung pada pengurangan NRW yang signifikan.

Kemitraan USAID-SECO dan Perumda AM Kota Magelang menargetkan NRW fisik di Kota Magelang turun menjadi 57% pada akhir tahun 2021. Kemitraan USAID-SECO juga akan membantu Perumda Air Minum Kota Magelang menyiapkan SOP bagi perbaikan kebocoran pipa.

Available in enEnglish (English)

Mitra