English Indonesia
Senin, 25 Juni 2018

Mempromosikan Sumur Resapan untuk Pengisian Kembali Air Tanah

Mempromosikan Sumur Resapan untuk Pengisian Kembali Air Tanah

Kondisi lingkungan alami punya dampak signifikan terhadap ketersediaan pasokan air. Ekosistem yang rusak, diperparah dengan pertumbuhan penduduk yang cepat, dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas air yang tersedia untuk konsumsi kita. Namun, jika kita menanganinya dengan benar, alam juga menawarkan solusi untuk menyediakan air yang kita perlukan. Mengenali pentingnya solusi berbasis alam untuk mengatasi masalah air, dan sebagai bagian dari perayaan Hari Air Sedunia 2018, USAID IUWASH PLUS mempromosikan keberhasilan penggunaan sumur resapan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan akuifer setempat melalui lokakarya nasional pengisian kembali air tanah di Jakarta, tanggal 22 Maret 2018.

“Tema Hari Air tahun ini, Alam untuk Air, menekankan perlunya menjaga alam dan mengatasi kelangkaan air. Salah satu solusi berbasis alam adalah sumur resapan. Sejak 2012, pemerintah Amerika Serikat melalui proyek USAID Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene dan bekerja sama dengan Coca-Cola Foundation Indonesia, telah membangun 3.334 sumur resapan di daerah tangkapan air,” ujar Matthew Burton, Direktur Kantor Lingkungan USAID dalam sambutan pembukaannya. “Dengan partisipasi pemerintah daerah, PDAM dan masyarakat, program ini menunjukkan hasil nyata. Debit mata air Senjoyo di desa Patemon naik dari 800 menjadi 1.100 liter per detik, dan debit mata air di desa Claket naik dari 13 menjadi 50 sampai 60 liter per detik,” tambahnya.

Matthew Burton, Direktur Kantor Lingkungan Hidup USAID memberikan sambutan pembukaan pada lokakarya pengisian kembali air tanah di Jakarta, 22 Mei 2018.

Senada dengan Matthew Burton, Ibu Tri Dewi Virgiyanti, Direktur Perkotaan, Perumahan, dan Permukiman Bappenas mengatakan bahwa salah satu arah kebijakan nasional adalah ketahanan air. “Kita perlu memastikan ketahanan air dan ketersediaan air baku. Sumur resapan telah terbukti sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan akuifer setempat dan kebijakan, rencana, dan bujet kita perlukan untuk dapat mendorong pendekatan penting ini,” jelasnya dalam pidato pembukaan.

Lokakarya ini memberikan masukan dari beragam pemangku kepentingan. Termasuk di antaranya adalah perwakilan dari masyarakat desa Patemon dan Claket, Kelompok Tani Serikat Paguyuban Petani Qariyah Thayibah (SPPQT), serta PDAM Salatiga dan Mojokerto yang berbagi pengalaman mereka dan manfaat pembangunan sumur resapan di dua desa tersebut. Beberapa menyebutkan adanya konflik air sebelum pembangunan sumur resapan, misalnya, para petani berselisih merebutkan air, atau bahkan tetangga yang bertengkar karena limpasan air yang menyebabkan banjir setempat. Dengan adanya sumur resapan, ketersediaan air menjadi lebih konsisten, banjir setempat berkurang, dan konflik sosial juga berkurang.

Samino, Kepala PDAM Kota Salatiga berbagi pengalaman tentang pembangunan sumur resapan di Desa Patemon yang telah meningkatkan debit mata air Senjoyo dari 800 liter/detik pada 2015 menjadi 1100 liter/detik pada 2017.

“Masyarakat sekarang paham dan merasakan manfaat sumur resapan. Oleh karena itu, kami merevisi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) untuk mendukung pembangunan lebih banyak sumur resapan. Target kami adalah membangun1000 sumur resapan,” jelas Puji Rahayu, Kepala Desa Patemon, Kabupaten Semarang.

Lokakarya ini juga membahas bagaimana pemerintah pusat, khususnya kementerian terkait seperti Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dapat memperkuat dukungan mereka untuk memperluas pembangunan sumur resapan di seluruh Indonesia.

Menurut penjelasan Nika Kartika, Kepala Sub-Direktorat Rehabilitasi Hutan dan Konservasi Sumber Daya Air, Bappenas, ketahanan air merupakan salah satu prioritas Rencana Kerja Pemerintah Indonesia tahun 2019, yang juga mencakup konservasi air tanah sebagai salah satu prioritasnya. Ia menambahkan, “Salah satu target konservasi air tanah 2019 mencakup sumur resapan. Target ini kemudian diuraikan lebih jauh di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Selain itu, juga ada Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk sektor kehutanan yang mencakup sumur resapan. Sekarang, semua tergantung pada proposal dari pemerintah daerah.”

Untuk membuat media lebih terlibat dalam sektor WASH (Air, Sanitasi, dan Higiene) dan, terutama, dalam memahami isu perlindungan air tanah, media juga hadir tidak hanya dalam lokakarya ini, tapi juga dalam kegiatan yang diselenggarakan sebelumnya, yaitu “kunjungan media’ ke Desa Patemon di Semarang, Jawa Tengah. Sekitar 20 wartawan berpartisipasi dalam kunjungan ini untuk melihat secara langsung program sumur resapan dan mewawancara warga setempat dan perwakilan PDAM.

Tiga belas wartawan dari media nasional dan local mengunjungi Desa Patemon untuk belajar tentang sumur resapan yang telah berhasil meningkatkan debit air mata air Senjoyo.

Budhi Santoso dari Kantor Berita Antara mengatakan bahwa media punya peran penting untuk mendorong gerakan sumur resapan. “Kita perlu kebijakan nasional untuk mengangkat isu ini. Sumur resapan dan konservasi air harus menjadi perhatian semua pihak,” ujarnya.

Peserta lokakarya sepakat bahwa sumur resapan adalah teknologi mudah, murah, dan efektif, dan diperlukan usaha bersama untuk mempromosikannya. “Untuk keberhasilan sumur resapan, harus ada gerakan bersama dan kemitraan antara masyarakat, media, serta pemerintah pusat, dan daerah. Mudah-mudahan lokakarya yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia ini dapat menjadi langkah awal konservasi air tanah melalui sumur resapan,” Louis O’Brien, Direktur USAID IUWASH PLUS menutup lokakarya ini.

Available in enEnglish (English)

Mitra