English Indonesia

Kolaborasi Masyarakat dan Swasta Tingkatkan Fasilitas Sanitasi di Dua Desa Padat Penduduk di Kota Malang

Kolaborasi Masyarakat dan Swasta Tingkatkan Fasilitas Sanitasi di Dua Desa Padat Penduduk di Kota Malang

Warga Tunjungsekar dan Sukun—dua desa padat penduduk di di Kota Malang—bisa menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk menyampaikan masalah sanitasi, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan keuangan, untuk membangun toilet dengan tangki septik.

Berdasarkan data monev partisipatif siklus keempat yang dimulai pada Juni 2020, sebanyak 40 dari 265 rumah tangga di Tunjungsekar belum memiliki toilet dengan tangki septik. Begitu juga, 312 dari 623 rumah tangga di Desa Sukun tidak memiliki akses ke fasilitas tersebut. Keluarga yang tidak memiliki tangki septik biasanya membuang air limbah yang tidak diolah ke lingkungan.

Menyikapi situasi yang tidak menguntungkan ini, pada triwulan terakhir tahun 2020, tim monev partisipatif dari desa Sukun dan Tunjungsekar mengajukan proposal ke YDKK (Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas) untuk membangun fasilitas sanitasi di desa mereka. Tim monev Desa Sukun mengusulkan pembangunan instalasi pengolahan air limbah komunal (IPAL Komunal) dengan 15 sambungan rumah serta tiga tangki septik bersama dan 15 sambungan rumah.

Sementara itu, tim monev di Tunjungsekar mengusulkan pembangunan 30 tangki septik individu untuk 30 rumah tangga. Pengajuan proposal tersebut merupakan tindak lanjut komunikasi antara USAID IUWASH PLUS dan YDKK untuk mendukung peningkatan akses sanitasi di wilayah dampingan proyek, termasuk di Kota Malang. Kemudian, USAID IUWASH PLUS dan YDKK melakukan diskusi lebih lanjut mengenai proposal yang diajukan tim monev partisipatif.

Proposal dari desa Sukun dan Tunjungsekar ternyata berhasil. YDKK dan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Sukun Jaya dan Tunjungsekar mengesahkan kemitraan tersebut dengan menandatangani perjanjian kerja sama pada 8 April 2021. Melalui kemitraan tersebut, YDKK menyediakan dana sebesar Rp 240 juta untuk membangun fasilitas sanitasi bagi 60 KK. Dana tersebut dibagi untuk dua desa: Rp 150 juta untuk Desa Sukun dan Rp 90 juta untuk Desa Tunjungsekar, dengan pengelolaan dana oleh masing-masing BKM Desa.

BKM Sukun Jaya dan BKM Tunjungsekar kemudian menyusun strategi untuk menggulirkan dana tersebut, sehingga dapat membangun lebih banyak fasilitas sanitasi. Dalam hal ini, penerima bantuan di Desa Tunjungsekar akan membayar 50% dari biaya tangksi septik, sementara penerima bantuan di Desa Sukun akan membayar 30% dari biaya fasilitas yang mereka terima. Dana tersebut dapat dicicil hingga satu tahun. Namun, aturan ini dikecualikan untuk keluarga yang sangat miskin.

Hingga pertengahan Juni 2021, 17 KK di Desa Tunjungsekar telah memiliki tangki septik dan 15 KK di Desa Sukun telah tersambung ke IPAL Komunal. Sebanyak 32 keluarga atau 160 orang telah merasakan manfaat dari kemitraan dengan YDKK di Tunjungsekar dan Sukun. Tim monev partisipatif dan BKM berkomitmen untuk melanjutkan proses pembangunan fasilitas sanitasi dengan mekanisme dana bergulir.

“Saya senang rumah saya sekarang terhubung ke IPAL Komunal. Mudah-mudahan dengan adanya fasilitas ini, lingkungan saya jadi lebih sehat dan bersih,” kata Muhammad Luthfi, salah seorang penerima manfaat di Desa Sukun.

Senada dengan itu, Yenny Purwati, salah seorang anggota tim monev partisipatif dari Desa Tunjungsekar, menegaskan bahwa dukungan dari YDKK juga bermanfaat bagi desa. “Bantuan dari YDKK akan membantu kami untuk mewujudkan Desa Sehat, Sanitasi Aman [tagline Desa Tunjungsekar], ”ujar perempuan penerima penghargaan STBM dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2020.

Available in enEnglish (English)

Mitra