English Indonesia

Perjuangan Panjang Keluarga Mustari Mendapatkan Air PDAM Akhirnya Terbayar

Perjuangan Panjang Keluarga Mustari Mendapatkan Air PDAM Akhirnya Terbayar

“Air dari sumur [dangkal] kami asin dan bau sehingga kami hanya dapat menggunakannya untuk mencuci dan mandi. Untuk masak dan minum, kami harus beli air bersih dari penjual air yang letaknya sekitar 500m dari sini [rumah]. Tapi, kadang airnya cepat habis. Kalau sudah begitu, kami harus beli air isi ulang dari kios air. Setiap bulan, kami mengeluarkan sekitar Rp150.000 untuk beli air bersih dan air isi ulang,” Bu Mustari mengawali ceritanya.

Keluarga Mustari, yang terdiri dari lima orang yang tinggal di Wonosari DKA 3 di Kota Surabaya, menghabiskan sebagian besar hidupnya berjuang mendapatkan air perpipaan di rumah. Sayangnya, keluarga Mustari tidak sendirian. Situasi ini juga ditemukan di 22 rumah lainnya di lingkungan Mustari.

Wonosari DKA 3 merupakan salah satu permukiman informal di Kota Surabaya yang terletak di antara rel kereta api yang masih aktif dan Sungai Pegirian. Sebagian besar masyarakat di wilayah ini mengandalkan air tanah yang tidak aman untuk keperluan non-konsumsi. Sementara itu, untuk keperluan konsumsi, mereka harus membeli air bersih dari penjual air atau air isi ulang, yang biasanya lebih mahal dari air PDAM.

“Keluarga kami sudah lama menunggu untuk bisa menikmati air yang lebih bersih di rumah, seperti orang-orang lain. Masa [kami] tinggal di kota besar tapi tidak punya akses air bersih. Tapi, kami tidak punya pilihan. Tidak ada sambungan reguler PDAM di sini karena tanah ini milik PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), “ujar Bu Mustari.

Tahun 2015, keluarga Mustari mendapat sedikit harapan ketika mereka mendengar PDAM Surya Sembada, Surabaya, dengan bantuan USAID IUWASH—program pendahulu USAID IUWASH PLUS—akan melaksanakan program master meter di Wonosari DKA3.

Master meter merupakan sistem pasokan air minum komunal. Sistem ini menyediakan solusi alternatif untuk meningkatkan akses air minum perpipaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di area yang tidak dapat dijangkau oleh standar perpipaan standar PDAM untuk sambungan reguler, seperti permukiman informal dan rumah panggung di atas laut.

Dalam sistem master meter, air dari pipa distribusi utama PDAM akan mengalir dari master meter yang dibangun di pipa utama PDAM. Kemudian, air tersebut akan didistribusikan dari master meter ke setiap rumah penerima manfaat melalui sambungan rumah.

“Bagi kami, master meter merupakan harapan untuk mengakses layanan PDAM. Jadi, kami berusaha untuk ikut program tersebut,” ujar Bu Mustari.

Namun, keluarga Mustari harus menelan pil pahit ketika mereka tidak terpilih mendapatkan program tersebut karena terlambat memasukkan berkas pendaftaran.

“Tapi, kita tidak menyerah begitu saja. Selama tiga tahun [sejak 2015], suami dan saya pergi ke PDAM hampir setiap hari dan bertanya kapan kita bisa mendapatkan air PDAM,” ujar Bu Mustari.

Setelah 3,5 tahun berjuang, keluarga Mustari kembali melihat harapan ketika mendengar bahwa PDAM Surya Sembada, dengan dukungan USAID IUWASH PLUS dan kemitraan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan beberapa perusahaan swasta, akan melanjutkan program master meter di sejumlah permukiman informal, termasuk Wonosari DKA3.

“Kami senang mengetahui bahwa kami akan menerima program master meter. Terlebih lagi, Yayasan Pundi Amal SCTV juga akan membantu kami membangun sambungan rumah,” ujar Bu Mustari.

“Dukungan ini [berasal dari Yayasan Pundi Amal SCTV] berarti bagi kami karena sebagian besar penduduk di sini bekerja sebagai buruh dan tidak dapat membangun sambungan dengan biaya sendiri,” tambah Bu Mustari.

Keluarga Mustari melanjutkan kerja keras mereka untuk memastikan air PDAM mengalir di lingkungan mereka. Mereka aktif mempromosikan program master meter kepada tetangga mereka dan berpartisipasi dalam pelatihan operasional dan pemeliharaan yang diselenggarakan oleh USAID IUWASH PLUS melalyu Yayasan Investasi Sosial Indonesia. Selain itu, Pak Mustari juga memimpin Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang tugasnya mencakup pemeliharaan dan pengelolaan sistem master meter di lingkungan mereka.

Pembangunan pipa distribusi master meter dan sambungan rumah di Wonosari DKA3 selesai November 2018. Sejak itu, air dari PDAM mengalir di 22 rumah di area ini.

“Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur kami sekarang dapat menikmati air PDAM untuk semua kebutuhan di rumah. Kami hanya bayar sekitar Rp60,000 untuk air dan perawatan. Lebih murah daripada membeli air. Ini adalah buah dari perjuangan panjang kami,”ujar Pak Mustari.

“Saat ini, master meter masih merupakan solusi terbaik untuk meningkatkan akses air minum di area informal. Saya harap terobosan dari multipihak akan membantu pemerintah memberikan pelayanannya dan membantu masyarakat memenuhi haknya,” ujar Mujiaman, Direktur Utama PDAM Surya Sembada.

Seperti halnya keluarga Mustari, jutaan penduduk di Indonesia masih berjuang mendapatkan air minum layak di rumah. Analisis data Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik tahun 2018 menunjukkan bahwa hanya 61,3% penduduk Indonesia mempunyai akses air minum layak.

Hari Air Sedunia 2019 yang mengusung tema ‘Leaving No One Behind’ berfokus pada mengatasi krisis air dengan menyelesaikan alasan mengapa banyak orang tertinggal. Program master meter yang didukung multipihak dapat menjadi solusi alternatif untuk masalah tersebut.

Selamat Hari Air Sedunia, semua!

Andri Pujikurniawati/Okto Reno (Kontributor)-

Available in enEnglish (English)

Mitra