English Indonesia
Senin, 25 Juni 2018

IPAL Komunal, Buah Pengkajian Partisipatif dan Pemicuan

IPAL Komunal, Buah Pengkajian Partisipatif dan Pemicuan

Akses sarana sanitasi yang buruk masih menjadi momok bagi beberapa masyarakat perkotaan di Indonesia. Upaya meningkatkan akses sanitasi sering menghadapi beberapa tantangan, misalnya, lingkungan yang padat dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya sarana sanitasi dan pengelolaan air limbah domestik. Hal ini diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi meningkatkan dan merawat sarana sanitasi.

Situasi ini juga dialami oleh 36 kepala keluarga (KK) yang menghuni 23 rumah di RT 09 Kelurahan Foramadiahi, Kota Ternate. Untuk mendorong masyarakat agar mau berubah, Dinas Kesehatan Kota Ternate dan USAID IUWASH PLUS melibatkan masyarakat untuk melakukan kegiatan pengkajian partisipatif dan pemicuan di awal Desember 2017. Kegiatan yang dibiayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) 2017 ini mengajak warga memahami kondisi sanitasi dan lingkungan sekitarnya sehingga mereka dapat termotivasi untuk berubah, dan bersedia menyusun rencana aksi mandiri untuk memperbaiki kondisi sanitasi di lingkungannya.

Warga RT 09, Kelurahan Foramadiahi memetakan kondisi sanitasi dan lingkungan di sekitar mereka, sebagai bagian dari kegiatan pengkajian partisipatif dan pemicuan.

Hasil kegiatan pengkajian partisipatif dan pemicuan menunjukkan bahwa lebih dari setengah KK di RT 09, Kelurahan Foramadiahi tidak punya jamban, untuk BAB mereka biasanya menumpang ke rumah tetangga yang memiliki jamban. Sayangnya tetangga yang memiliki jamban ini, juga tidak memiliki penampungan tinja yang kedap. Sehingga, risiko pencemaran lingkungan karena limbah tinja cukup tinggi, dan pada akhirnya dapat mengancam kesehatan warga. Selain itu, rasa tidak nyaman sering muncul ketika warga harus menumpang ke rumah tetangga untuk buang air besar.

Faktor ekonomi menjadi penyebab utama masyarakat enggan membangun jamban sendiri. “Biaya membuat jamban di sini mahal karena lokasi RT 09 jauh dari kota dan berada di ketinggian,” ujar Iswan Abdul Latif, Ketua RT 09. Dengan letak geografis yang sulit, warga yang ingin membangun jamban sendiri rata-rata harus mengeluarkan biaya sekitar 10 hingga 20 juta rupiah. Biaya ini tentunya tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat RT 09 yang bekerja sebagai petani penggarap kebun atau kuli pelabuhan.

Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Kesehatan Kota Ternate dan USAID IUWASH PLUS menggunakan hasil pengkajian partisipatif dan pemicuan untuk mengadvokasi Dinas Pekerjaan Umum (PU) membangun sarana sanitasi bagi masyarakat RT 09, Kelurahan Foramadiahi.

Setelah lima bulan proses advokasi, Dinas PU mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Sanitasi 2018 untuk membangun jamban bagi rumah yang belum punya sarana tersebut, dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal yang terhubung dengan 23 rumah dan satu masjid di RT 09, Kelurahan Foramadiahi.

“Saya bersyukur dengan adanya pemicuan metode perkotaan seperti yang dilakukan USAID IUWASH PLUS karena hasilnya sungguh luar biasa. Masyarakat bisa terpicu untuk mengubah perilakunya menjadi lebih sehat. Dinas PU juga bisa terdorong untuk membangun sarana sanitasi, “ jelas Aida Fitria, staff Dinas Kesehatan Kota Ternate.

Anggota KSM, tukang, serta staff Dinas Kesehatan dan Dinas PU Kota Ternate mengikuti pelatihan pemeliharaan tangki septik.

Hasil dari kegiatan pengkajian partisipatif dan pemicuan juga mendorong masyarakat membuat dan melaksanakan rencana tindak lanjut untuk meningkatkan akses sanitasi. Untuk itu, warga RT 09 bersama dengan Dinas PU, puskesmas, dan tokoh masyarakat sepakat untuk membangun IPAL Komunal di atas lahan salah satu warga RT 09.

Sebagai bagian dari rencana tindak lanjut, masyarakat RT 09 juga membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang akan mengelola dan merawat IPAL Komunal berbekal pengetahuan dan keterampilan teknis yang diberikan USAID IUWASH PLUS, seperti pelatihan teknik dan operasional pemeliharaan tangki septik.

Masyarakat RT 09 menyadari bahwa pembangunan toilet dan IPAL Komunal di wilayah mereka sangat bermanfaat. “Dulu warga di lingkungan ini banyak yang tidak punya WC. Mereka harus numpang kalau mau buang air. Alhamdulillah, tahun ini jamban dan IPAL dibangun di RT 09. Semoga lingkungan jadi lebih bersih dan sehat, “ujar Endang Malik, Kader Posyandu.

(Shofyan Ardiansyah/USAID IUWASH PLUS)

Available in enEnglish (English)

Mitra