English Indonesia
Senin, 25 Juni 2018

Kegiatan Pengkajian Partisipatif dan Pemicuan Ubah Perilaku Masyarakat di Tebing Tinggi

Kegiatan Pengkajian Partisipatif dan Pemicuan Ubah Perilaku Masyarakat di Tebing Tinggi

Sanitasi aman masih dianggap mahal dan sulit bagi sebagian besar masyarakat di lima kelurahan mitra USAID IUWASH PLUS di Kota Tebing Tinggi, yaitu Mekar Sentosa, Sri Padang, Bandar Utama, Karya Jaya, dan Tualang. Meskipun tingkat perilaku buang air besar sembarangan (BABS) tidak banyak dilakukan di wilayah ini, mayoritas masyarakat masih menggunakan jamban Leher Angsa Langsung (jamban yang pembuangannya langsung ke badan air/tanpa tangki septik) yang sebenarnya masih termasuk kategori BABS. Akibatnya, risiko pencemaran lingkungan karena limbah tinja di daerah ini cukup tinggi.

Untuk mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat limbah tinja, Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi bersama USAID IUWASH PLUS mempromosikan sanitasi aman, termasuk penampungan limbah tinja di tangki septik dan penyedotan tinja terjadwal di lima kelurahan mitra USAID IUWASH PLUS. Kegiatan yang dilakukan sejak Mei 2017 ini bertujuan mendorong masyarakat untuk beralih dari perilaku buang air besar sembarangan dan bagi pemilik jamban cubluk untuk beralih ke jamban yang dilengkapi tangki septik, sebagai langkah awal penerapan pengelolaan santasi aman.

Namun, mengubah perilaku masyarakat bukan hal yang mudah. Diperlukan cara yang efektif untuk memunculkan rasa ingin berubah dari dalam diri masyarakat. Menyadari kebutuhan ini, USAID IUWASH PLUS mendukung Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi melakukan kegiatan pengkajian partisipatif dan pemicuan kepada masyarakat sebagai bagian dari promosi sanitasi aman di lima kelurahan tersebut. Melalui kegiatan ini, warga diajak untuk memetakan kondisi lingkungan tempat tinggal mereka. Kemudian, mereka diajak untuk memverifikasi hasil pemetaan melalui kegiatan susur kampung atau penelusuran lingkungan untuk melihat kembali kondisi lingkungan sekitar mereka, dan mendiskusikan apa yang perlu dilakukan untuk mendorong perubahan perilaku dan peningkatan akses di masyarakat.

Melalui kegiatan pengkajian partisipatif dan pemicuan, warga juga belajar tentang perilaku berisiko yang dapat mengganggu kesehatan lingkungan dan mengakibatkan pencemaran tinja ke kegiatan sehari-hari keluarga, termasuk makan dan minum. Pada akhirnya, warga didorong untuk mengetahui pentingnya menggunakan tangki septik untuk kesehatan dan lingkungannya.

Setelah mengikuti diskusi dan promosi yang dilakukan selama beberapa kali di kelurahan tersebut, beberapa warga mulai menyadari bahaya jamban tanpa tangki septik. Ibu Suryawati adalah salah satu warga Kelurahan Mekar Sentosa yang mengubah pandangannya. Kegiatan pengkajian partisipatif dan pemicuan ini membuka matanya bahwa jamban tanpa tangki septik yang selama ini dia gunakan mengancam kesehatan keluarga. Sejak itu, dia punya keinginan kuat untuk membangun tangki septik secara swadaya.

Pembuatan tangki septik di rumah Bapak Dasopang, warga Kelurahan Mekar Sentosa. Dia bersedia membangun tangki septik untuk melindungi kesehatan keluarganya.

Hal serupa juga dialami Ibu Rahmawani, staf Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi. Meskipun paham tentang pengelolaan sanitasi aman, dia belum menerapkan sepenuhnya. Setelah terlibat dalam rangkaian kegiatan promosi sanitasi aman, Ibu Ramawani bertekad untuk berubah dan membangun tangki septik. “Saya sadar jika saya ingin mengubah perilaku masyarakat, saya harus berubah lebih dulu,” katanya.

Keinginan kuat Ibu Suryawati dan Ibu Rahmawani untuk berubah diwujudkan dengan membangun tangki septik secara swadaya di rumah tangganya pada bulan Januari 2018. USAID IUWASH PLUS memanfaatkan proses pembangunan tangki septik ini sebagai sarana untuk melatih para tukang, kader, dan masyarakat umum tentang teknis membuat tangki septik.

Perubahan perilaku yang dilakukan dua perempuan ini perlahan mulai menginspirasi warga Mekar Sentosa lainnya, salah satunya Bapak Dasopang yang bekerja sebagai staff Kementerian Agama. Dia mengikuti jejak Ibu Suryawati dan Ibu Rahmawani untuk membangun tangki septik dengan biaya sendiri. “Tangki septik kedap ini bagus untuk kesehatan keluarga dan anak. Selain itu harganya cukup terjangkau setelah saya menabung beberapa bulan ,” ujar Bapak Dasopang.

Kegiatan pengkajian partisipatif dan pemicuan ini juga berhasil memicu warga lainnya yang ingin berubah tapi belum mampu untuk langsung membangun tangki septik di rumahnya. Sebagian warga tersebut memulai gerakan menabung untuk membangun tangki septik. Contohnya, 15 ibu di Kelurahan Mekar Sentosa menabung setiap hari sebesar Rp2.000 untuk membuat tangki septik. Gerakan ini juga diikuti oleh 11 ibu di Kelurahan Karang Jaya, dan 10 orang staf Puskesmas Teluk Karang. Agar warga yang sedang menabung bisa membangun tangki septik lebih cepat, USAID IUWASH PLUS mendorong mereka untuk mencari sumber pendanaan eksternal, seperti program Corporate Social Responsibility (CSR) dan kredit mikro.

Pemerintah daerah mengapresiasi perubahan perilaku masyarakat untuk menerapkan sanitasi aman. Ibu Suryawati dan Ibu Rahmawani mendapat penghargaan sebagai masyarakat yang melakukan perubahan swadaya dari Pemerintah Kota Tebing Tinggi pada bulan Maret 2018.

Asisten Administrasi Umum (tengah) berdiskusi dengan staff Dinas Kesehatan (kanan) tentang cara kerja tangki septik. Pemerintah Kota Tebing Tinggi mengapresiasi komitmen masyarakat untuk membangun jamban dengan tangki septik.

Sebulan kemudian, Pemerintah Kota Tebing Tinggi menggunakan kegiatan pembangunan tangki septik kedap di rumah Bapak Dasopang sebagai acara pemberian ucapan terima kasih dari pemerintah kota kepada warga yang telah berubah. ”Pada tahun 2019, diharapkan Kota Tebing Tinggi bisa deklarasi STOP BABS. Saya berharap kita semua dapat mendukung dan berkoordinasi dengan baik agar Kota Tebing Tinggi dapat meraih Kota Sehat Tingkat Tiga,” ujar Walikota Tebing Tinggi dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Administrasi Umum.

(Susilawaty/ USAID IUWASH PLUS)

Available in enEnglish (English)

Mitra