English Indonesia
Senin, 25 Juni 2018

Masyarakat Bergerak Mengelola SPAM Komunal

Masyarakat Bergerak Mengelola SPAM Komunal

Ketika sebagian penduduk Indonesia dapat menikmati air bersih yang melimpah dengan mudah, warga Dusun Sembir, Kelurahan Bugel, dan Dusun Brajan, Kelurahan Blotongan, Kota Salatiga harus berjuang mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Masyarakat harus rela berkendaraan sejauh empat kilometer atau jalan kaki naik turun tebing ke dusun atau kelurahan lain hanya untuk menimba air. Sesampainya di sana, warga juga harus antre untuk mendapatkan air. “Kami harus antre siang, malam, dan dini hari hanya untuk mengambil air. Banyak waktu dan tenaga terbuang,” Suparno (37) warga Dusun Sembir mengenang masa-masa ketika air sulit didapat di dusunnya.

Senada dengan Suparno, Jamuri (55) warga Dusun Brajan menambahkan bahwa air yang selama ini mereka ambil dari dusun atau kelurahan lain sebenarnya juga tidak layak konsumsi karena berwarna dan berbau. Akibatnya, warga Dusun Brajan masih harus membeli air isi ulang seharga 50 ribu rupiah per bulan untuk masak dan minum.

Sulitnya mendapatkan pasokan air bersih memang telah lama dirasakan oleh penduduk Dusun Sembir di Kelurahan Bugel, dan Dusun Brajan di Kelurahan Blotongan, serta beberapa dusun lain di Kelurahan Mangunsari, Sidorejo Lor, Tingkir Tengah, dan Cebongan. Keenam kelurahan ini terletak di lereng Gunung Merbabu, dan jauh dari sumber mata air. Sumur gali terdekat tidak memiliki debit air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan warga, dan kualitas airnya buruk.

Untuk mengatasi masalah kelangkaan air bersih, warga di enam kelurahan tersebut meminta bantuan pemerintah Kota Salatiga untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Menanggapi permintaan warga tersebut, tahun 2017, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Salatiga membangun delapan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Komunal di enam kelurahan yang sulit mengakses air menggunakan Dana Alokasi Khusus 2017.

Bapak Wardoyo, salah satu pengurus KSM Tirta Amanah di Dusun Modangan, Kelurahan Blotongan sedang melaksanakan tugasnya memeriksa aliran air.

Agar pasokan air bersih dari SPAM Komunal ke rumah penduduk lancar, masyarakat perlu dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan sarana. Untuk itu, Pemerintah Kota Salatiga bekerja sama dengan USAID IUWASH PLUS mendorong masyarakat agar mau terlibat dalam seluruh proses pembangunan dan pengelolaan SPAM Komunal. Selama proses pembangunan SPAM Komunal, tim USAID IUWASH PLUS melakukan sosialisasi kegiatan pembangunan sarana ini kepada masyarakat di dusun atau kelurahan yang akan menerima SPAM Komunal, dan mengajak mereka untuk membantu pemerintah membangun sarana. Keterlibatan masyarakat ini nantinya dapat menimbulkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab masyarakat untuk memelihara sarana SPAM Komunal.

Masyarakat juga membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk mengelola sarana ini dengan pendampingan dari USAID IUWASH PLUS. KSM ini akan bertugas atas kegiatan operasional, pemeliharaan sarana, manajemen pengelolaan secara rutin, serta pembentukan dan penetapan prosedur operasional melalui musyawarah dengan para pelanggan.

Kerja keras masyarakat akhirnya membuahkan hasil. Akhir 2017, 535 rumah tersambung ke sarana SPAM Komunal. “Dulu untuk mendapatkan air, kami harus antre menimba air tidak kenal waktu. Sekarang tinggal putar keran, air mengalir,” ujar Bambang (42), warga Dusun Brajan. Senada dengan Bambang, Jamuri, warga Dusun Brajan mengatakan bahwa sekarang dia bisa lebih hemat karena tidak perlu lagi membeli air isi ulang.

Kemajuan penting juga mulai terjadi di setiap KSM. Pengurus KSM di delapan SPAM Komunal mampu menggunakan keterampilan teknis pemeliharaan dan pengembangan SPAM, dan kemampuan berorganisasi dan manajemen keuangan yang diajarkan oleh tim USAID IUWASH PLUS. Delapan KSM tersebut mampu membuat aturan dan kebijakan pengelolaan SPAM sendiri, seperti membuat Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan prosedur operasional, melakukan pencatatan keuangan, dan menentukan besaran tarif dan biaya sambungan baru. Contohnya, KSM Berkah Rahayu pengelola SPAM Komunal Dusun Brajan menetapkan biaya sambungan baru sebesar 500 ribu rupiah. Biaya ini ditetapkan melalui musyawarah antara pengurus KSM dan masyarakat, dengan mempertimbangkan tingkat ekonomi masyarakat, dan jumlah pelanggan.

Beberapa KSM bahkan mulai membuat rencana untuk mengembangkan layanan SPAM Komunal. Misal, KSM Tirta Kencana di Kelurahan Cebongan berencana mengembangkan layanan SPAM Komunal dari 83 rumah menjadi 100 rumah menggunakan uang kas KSM. Sedangkan, KSM Tirtomigunani di Kelurahan Sidorejo Lor berencana mengembangkan usaha air minum kemasan, dan keuntungannya akan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan warga pengguna SPAM Komunal.

Suparno, warga Dusun Sembir, Kelurahan Bugel merasa senang karena, keluarganya bisa mendapatkan air di rumah setiap saat, sejak dia menjadi pelanggan KSM Tirta Ndali.
Pengelolaan SPAM Komunal yang melibatkan masyarakat ternyata juga mampu menguatkan hubungan antar warga. “Sejak adanya SPAM Komunal ini, interaksi warga makin erat karena kami lebih sering bertemu untuk membahas pengelolaan SPAM,” jelas Akhmad Kuri, Ketua RT 9, Kampung Soka, Kelurahan Sidorejo Lor, yang juga Ketua KSM Tirtomigunani.

(Edy Triyanto/ USAID IUWASH PLUS)

Available in enEnglish (English)

Mitra